Connect with us

Hukum & Kriminal

Ditinggal Kerja, Rumah dan Kandang Sapi di Situbondo Ludes Dilalap Api

Diterbitkan

||

Rumah semi permanen milik Sugiyanto (60) tampak ludes terbakar. (her)
Rumah semi permanen milik Sugiyanto (60) tampak ludes terbakar. (her)

Memontum Situbondo – Ditinggal bekerja mencari pasir di sungai, rumah semi permanen milik Sugiyanto (60), warga Dusun Kotakan Tengah, Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo Kota, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur hangus dilalap si jago merah atau terbakar, Senin (10/8/2020) siang.

Selain itu, kandang sapi milik korban juga ikut hangus terbakar dilalap si jago merah. Rumah semi permanen dari papan kayu dan kandang sapinya, kondisinya rata dengan tanah. Selain itu, seluruh perabot rumah tangga milik korban juga menjadi arang.

Kerugian materi akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai Rp.30 juta lebih. Tidak ada korban luka dalam peristiwa kebakaran yang terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Sebab, saat kejadian rumah dalam kondisi kosong, Sugiyanto selaku pemilik sedang bekerja mencari pasir di sungai, sedangkan istrinya sedang berjualan jihu didepan SMP Negeri 2 Situbondo.

Diperoleh keterangan, pertama kali, kebakaran rumah dan kandang sapi tersebut diketahui oleh tetangga dekatnya, bernama Maryanto. Begitu mengetahui rumah tetangganya terbakar, bapak satu anak ini berteriak histeris meminta tolong. Hanya dalam hitungan menit, puluhan warga mendatangi lokasi kejadian, mereka berupaya memadamkan kobaran api dengan menggunakan alat seadanya.

Namun, kobaran api yang membakar rumah dan kandang sapi milik korban berhasil dipadamkan, satu jam setelah kejadian. Itu pun setelah tiga unit mobil pemadam kebakaran (Damkar) milik Pemkab Situbondo datang ke lokasi kejadian.

“Begitu mengetahui rumah Pak Sugiyanto terbakar, saya dan puluhan warga memadamkan kobaran api menggunakan alat seadanya. Karena jika tidak segera dipadamkan, kebakaran itu akan merembet ke rumah yang lain,” kata Maryanto.

Puryono koordinator Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Situbondo membenarkan peristiwa kebakaran rumah dan kandang sapi milik korban Sugiyanto. Namun, pihaknya belum mengetahui secara pasti, penyebab kebakaran.

“Kerugian materi akibat kebakaran rumah dan kandang diperkirakan mencapai Rp 30 jutaan,” ujar Puryono. (her/mzm)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Kapolres: Pelaku Kerusuhan di Situbondo Disinyalir Ada Oknum Anggota PSHT dari Luar Kabupaten

Diterbitkan

||

oleh

Salah satu korban pengrusakan rumah menunjukkan batu bata yang dilemparkan oknum anggota PSHT pada kaca rumahnya. (im)
Salah satu korban pengrusakan rumah menunjukkan batu bata yang dilemparkan oknum anggota PSHT pada kaca rumahnya. (im)

Memontum Situbondo – Pelaku kerusuhan yang terjadi di dua Desa yang dilakukan oleh sekelompok perguruan pencak silat hingga ratusan orang tersebut diduga oknum anggota PSHT dengan membabi buta melakukan penyerangan pada warga sekitar diperkirakan ada dari luar kota, seperti ada yang datang dari PSHT Kabupaten Banyuwangi, Jember dan Bondowoso, Selasa (11/08/2020).

Hal tersebut dikatakan Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Situbondo, AKBP Sugandi SIK M Hum, pelaku kerusuhan dan pengrusakan rumah, kios, lapak pedagang dan pemecahan kaca mobil milik warga Desa Sekarputih, Kecamatan Panji dan warga Desa Trebungan, Kecamatan Mangaran, Kabupaten Situbondo bukan hanya dilakukan oleh oknum anggota PSHT dari Situbondo saja, namun ada yang datang dari anggota PSHT Kabupaten Banyuwangi, Jember dan Bondowoso.

Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Situbondo AKBP Sugandi SIK M Hum saat diwawancarai wartawan Memo X. (im)

Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Situbondo AKBP Sugandi SIK M Hum saat diwawancarai wartawan Memo X. (im)

“Dari hasil pemeriksaan saksi korban dan anggota PSHT, ada informasi pelaku pengrusakan tersebut juga datang dari luar Kabupaten Situbondo, yakni Kabupaten Jember, Banyuwangi dan Bondowoso. Mereka ikut bergabung melakukan penyerangan ke Desa Kayuputih dan Trebungan,” jelas Kapolres Sugandi saat diwawancarai puluhan wartawan.

Sambung Kapolres Situbondo, dari pemeriksaan 21 saksi anggota PSHT, ada 6 orang pelaku yang akan ditingkatkan menjadi tersangka.

“Mereka akan kita tahan dan di jerat dengan pasal 170, pasal 160 KUHP dan pasal-pasal lainnya. Semua pelaku murni tindakan kriminalitas,” ujarnya.

Lebih lanjut Ajun Komisaris Besar Polisi Sugandi SIK M Hum menerangkan, dengan adanya 6 orang oknum anggota PSHT akan dijadikan tersangka pada hari ini, maka pihak Kepolisian Resort Situbondo akan terus melakukan pengembangan hingga semua para pelaku kerusuhan tertangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya dihadapan hukum.

“Para pelaku pengrusakan yang terjadi pada Senin (10/08/2020) dini hari akan dilakukan tindakan tegas dan mungkin saja akan ada tersangka-tersangka baru. Karena saat terjadi kerusuhan jumlah orang oknum anggota PSHT sangat banyak sekali,” pungkasnya. (im/mzm)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Ratusan Orang Diduga Anggota PSHT Kembali Serang Warga Desa Kayuputih

Diterbitkan

||

oleh

Rumah warga yang dirusak ratusan orang diduga dari anggota PSHT. (im)
Rumah warga yang dirusak ratusan orang diduga dari anggota PSHT. (im)

Memontum Situbondo – Pasca insiden bentrok antara gerombolan orang yang diduga dari perguruan pencak silat PSHT kontra warga Desa Kayuputih, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, yang terjadi pada hari Minggu (09/08/2020) sore. Pada Senin (10/08/2020) sekitar pukul 03.00 pagi, ratusan orang diduga anggota PSHT kembali melakukan penyerangan terhadap warga Desa Kayuputih.

Dalam penyerangan kali kedua itu, ratusan orang yang diduga dari perguruan PSHT tersebut merusak sejumlah mobil dan memporak porandakan puluhan rumah dengan cara dilempari batu. Tidak hanya itu, ratusan orang itu yang menurut keterangan warga setempat membawa berbagai macam senjata tajam (sajam), juga membakar kios bensin dan merusak empat mobil yang sedang diparkir dihalaman rumah warga.

“Kejadiannya sekitar pukul 03.00 pagi. Ratusan orang yang datang kesini itu membabi buta dengan melempari rumah dan mobil saya hingga kacanya pecah. Mereka juga membawa sajam,” kata Subairi (50) warga Dusun/Desa Kayuputih RT 02 RW 02 Kecamatan Panji, Senin (10/8/2020) pagi.

Menurut Subairi, saat terjadi penyerangan dirinya bersama keluarga lebih memilih tetap tinggal di dalam rumah meskipun mobil dan rumahnya dilempari batu. Sebab, kalau nekat keluar rumah tidak menutup kemungkinan dirinya dan keluarganya akan menjadi korban.

“Terus terang, gerombolan orang yang membuat anarkis, membuat saya dan keluarga ketakutan dan memilih diam di dalam rumah. Setelah mereka pergi, saya lihat kaca rumah dan dua mobil sudah pecah berantakan. Saya berharap ada penjagaan yang ketat dari aparat TNI khususnya Kodim Situbondo, Polres dan pihak terkait agar tidak terulang kembali,” imbuhnya.

Baca : 5 Warga Kayuputih Terluka Bentrok dengan Konvoi PSHT

Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Situbondo, AKBP Sugandi SIK M Hum yang turun langsung ke TKP mengatakan, dengan adanya insiden tersebut, aparat kepolisian dari Polres Situbondo sedang melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap ratusan orang diduga dari perguruan silat yang diduga melakukan tindak anarkis terhadap warga.

“Saat ini kita masih melakukan pengejaran terhadap terduga pelaku dan mengumpulkan sejumlah barang buktinya. Sebab tidak dibenarkan, adanya perbuatan anarkis yang meresahkan warga dan akan diproses secara hukum,” pungkasnya. (im/mzm)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

5 Warga Kayuputih Terluka Bentrok dengan Konvoi PSHT

Diterbitkan

||

oleh

Situasi saat terjadi bentrok antara gerombolan anggota pencak silat dan warga Desa Kayuputih. (im)
Situasi saat terjadi bentrok antara gerombolan anggota pencak silat dan warga Desa Kayuputih. (im)

Memontum Situbondo – Dipicu pencabutan bendera Merah Putih di sebuah kios bensin, segerombolan pemuda salah satu perguruan pencak silat disinyalir anggota PSHT terlibat bentrok dengan warga Desa Kayuputih, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Akibat dari bentrok tersebut, sedikitnya lima warga Desa Kayuputih menderita lebam-lebam dan mengalami luka yang cukup serius. Sedangkan, dua dari gerombolan pencak silat dari PSHT berhasil diamankan ke Mapolres Situbondo untuk dimintai keterangannya, Minggu (09/08/2020).

Peristiwa tersebut terjadi pada sore hari, saat berkonvoi dengan mengendarai sepeda motor melintasi jalan raya di Desa Kayuputih, salah satu dari anggota perkumpulan pencak silat itu berhenti di kios bensin milik Helmi yang kebetulan dijaga Zainal Abidin dan kemudian mengambil sebuah bendera merah putih.

Kemudian, Zainal Abidin langsung menegurnya. Diduga tak terima ditegur, gerombolan perguruan pencak silat yang saat itu sedang melakukan konvoi, kemudian turun dan langsung melakukan pengeroyokan.

Bahkan, melakukan pelemparan dengan batu hingga membuat Zainal Abidin, Helmi, Abdul Malik, Suwarno, Saifur Rahman menderita lebam dan luka dibagian hidung dan kepalanya dan langsung dirawat di rumah sakit.

Warga yang melihat kejadian tersebut kemudian ingin melerai. Tapi pihak dari gerombolan pencak silat malah membabi buta juga melempari warga dengan batu bata dan batu. Bahkan, lemparan batu tersebut sempat mengenai rumah warga setempat.

Waka Polres Situbondo, Kompol Zein Mawardi Amd, membenarkan adanya insiden yang terjadi tersebut, dan pihaknya bersama TNI dan Pemkab langsung melakukan koordinasi dengan ketua perguruan pencak silat agar situasi Kamtibmas menjadi kondusif.

“Dari bentrok tersebut, ada tiga orang warga yang dirawat di rumah sakit. Namun kondisinya sudah membaik dan diperbolehkan pulang,” katanya.

Agar tidak timbul kegaduhan susulan, lanjutnya, maka pihak kepolisian akan melakukan penanganan secara prosedural dengan melakukan pemeriksaan dan dihimbau kepada masyarakat tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

“Kami himbau kepada warga agar menciptakan situasi keamanan yang kondusif. Sebab, kasus tersebut sudah kita tangani secara prosedural,” pungkasnya. (im/mzm)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler